saya harap ada sesiapa boleh tolong saya. sy mempunyai suara yang kuat.
lepas sy tau yg suara tu aurat, sy cuba utk mengawal suara sy tapitak berjaya*tdown*So, sy nak minta nasihatdan cara utk sy mengatasinya*blushing*
Edited by UkhwAh on 21.11.2008 21:52
aslmkum,syuhada...
erm,sy pun x brp arif sgt dlm hal ni tp apa yng blh sy katakan adalah,awk cb practice dgn kwn2 awk...
slain tu,awk cb perhatikan ustazah ke mak awk bl mereka mnuturkan kata..
mn la tau,dr ctu,awk blh blaja mngeluarkan suara yng perlahan...
erm,kalau slh,sy minx maaf la...
Emm, macam mana ble dkatakan suara tu aurat?*hypo*
Cakap2 ngan lelaki dah kira aurat ke?
Yang saya tahu, pompuan tu dkatakan mendedahkan aurat suaranya bile menyanyi..
Tolong,sape2 boleh jelaskan tak?Ustaz or ustazah..
Ckit sangat ilmu agama saya...*frown*
Tap rasanya masalah ni, satu advantage ntuk syuhada,
nant nak buat presentation tak de la masalah..*spin*
Setakat mana kuatnya suara awak tu?
Kalu cakap ngan kawan2 kat depan,orang yang paling blakang leh dengar ke?*shades*
Nisa_88 wrote:
Emm, macam mana ble dkatakan suara tu aurat?*hypo*
Cakap2 ngan lelaki dah kira aurat ke?
Yang saya tahu, pompuan tu dkatakan mendedahkan aurat suaranya bile menyanyi..
Tolong,sape2 boleh jelaskan tak?Ustaz or ustazah..
Ckit sangat ilmu agama saya...*frown*
Tap rasanya masalah ni, satu advantage ntuk syuhada,
nant nak buat presentation tak de la masalah..*spin*
Setakat mana kuatnya suara awak tu?
Kalu cakap ngan kawan2 kat depan,orang yang paling blakang leh dengar ke?*shades*
hehe ana lak kwn2 salu ckp sore slow sgt time present msti xdgr..pas2 lec tgur suh mjerit dlm baldi berisi air....ana dh buat 2 3 akli kuat la sikit sore...klu ana x clap la, sore ni aurat tp klu kte gne utk kperluan yg d bleh kn xda mslh cth nk presentition...klu slow nnt org xdgr...
salam...
pernah menghadapi masalah yg sama... masih menghadapi kot..tp leh control laa..
syuhadah cuba praktis cakap bila perlu jek..sebab selalu nyea suara kita nie jd terkuat sebab kita terexcited or gemberi terlebih2 or terkejut...macam tgh tgk bola,kdg2 suara terkuat menyokong, masa main bola jaring...nak mintak pass bola...masa2 tu rasanyea acceptable to use suara awak tu...
setahu saya laa suara perempuan jd aurat bila mana suara itu boleh mendebarkan hati lelaki yg mendengarnyea..contoh nyea awak nak pinjam buku kat kawan lelaki..cakap jek laa elok n nada biasa..bukannyea meleret..."ali~~~boleh syuhada pinjam buku awak tak(dgn manjanyea)" klu macam nie sahih nak kene penampar...hehhe simple n straight forward punye example..
u will get through it dear..yg penting ingat, bersuara bila perlu jek ok...at least kat sini dah bantu kita dari bercakap yg sia2...
take care
syuhada95 wrote:
saya harap ada sesiapa boleh tolong saya. sy mempunyai suara yang kuat.
lepas sy tau yg suara tu aurat, sy cuba utk mengawal suara sy tapitak berjaya*tdown*So, sy nak minta nasihatdan cara utk sy mengatasinya*blushing*
suara kuat x mengapa...
lagipun bukan aurat...
ade bab2 tertentu suara kamu tu amat berguna...
maka waktu2 perbualan biasa..belajar lah control suare...ok je tu...
tapi ingat..walaupun suara wanita bukan aurat...
tapi suara wanita y buat lemah-gemalai sehingga boleh membuat timbulnya fitnah...maka itu memang JELAS dilarang agama...
maka,dikehendaki kamu pandai2 lah tang mane nak guna suara kamu tu..
bukan kamu sorang saja,dan juga kepada wanita2 y lain gak..huhu:D
ermm.. saya bersetuju dengan suara wanita bukanlah aurat. Tetapi sebagai peringatan nak memahami hukum bukan hanya tengok hadith sahih kendian dah terus buat hukum. Ulamak feqah nak istinbat hukum dengan menguasai disiplin ilmu feqh, usul feqh, ULUMUL HADITH, ulumul quran, menguasai bahasa arab dengan baik.
Menurut pendapat yusof al Qardhawi di dalam feqh muasarohnya :
Sebenarnya tidak ada satu pun agama langit atau agama
bumi, kecuali Islam, yang memuliakan wanita, memberikan
haknya, dan menyayanginya. Islam memuliakan wanita,
memberikan haknya, dan memeliharanya sebagai manusia.
Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan
memeliharanya sebagai anak perempuan.
Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan
memeliharanya sebagai istri. Islam memuliakan wanita,
memberikan haknya, dan memeliharanya sebagai ibu. Dan
Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan
memelihara serta melindunginya sebagai anggota
masyarakat.
Islam memuliakan wanita sebagai manusia yang diberi
tugas (taklif) dan tanggung jawab yang utuh seperti
halnya laki-laki, yang kelak akan mendapatkan pahala
atau siksa sebagai balasannya. Tugas yang mula-mula
diberikan Allah kepada manusia bukan khusus untuk
laki-laki, tetapi juga untuk perempuan, yakni Adam dan
istrinya (lihat kembali surat al-Baqarah: 35)
Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun nash Islam,
baik Al-Qur'an maupun As-Sunnah sahihah, yang
mengatakan bahwa wanita (Hawa; penj.) yang menjadi
penyebab diusirnya laki-laki (Adam) dari surga dan
menjadi penyebab penderitaan anak cucunya kelak,
sebagaimana disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama.
Bahkan Al-Qur'an menegaskan bahwa Adamlah orang pertama
yang dimintai pertanggungjawaban (lihat kembali surat
Thaha: 115-122).
Namun, sangat disayangkan masih banyak umat Islam yang
merendahkan kaum wanita dengan cara mengurangi
hak-haknya serta mengharamkannya dari apa-apa yang
telah ditetapkan syara'. Padahal, syari'at Islam
sendiri telah menempatkan wanita pada proporsi yang
sangat jelas, yakni sebagai manusia, sebagai perempuan,
sebagai anak perempuan, sebagai istri, atau sebagai
ibu.
Yang lebih memprihatinkan, sikap merendahkan wanita
tersebut sering disampaikan dengan mengatas namakan
agama (Islam), padahal Islam bebas dari semua itu.
Orang-orang yang bersikap demikian kerap menisbatkan
pendapatnya dengan hadits Nabi saw. yang berbunyi:
"Bermusyawarahlah dengan kaum wanita kemudian
langgarlah (selisihlah)."
Hadits ini sebenarnya palsu (maudhu'. Tidak ada
nilainya sama sekali serta tidak ada bobotnya ditinjau
dari segi ilmu (hadits).
Yang benar, Nabi saw. pernah bermusyawarah dengan
istrinya, Ummu Salamah, dalam satu urusan penting
mengenai umat. Lalu Ummu Salamah mengemukakan
pemikirannya, dan Rasulullah pun menerimanya dengan
rela serta sadar, dan ternyata dalam pemikiran Ummu
Salamah terdapat kebaikan dan berkah.
Mereka, yang merendahkan wanita itu, juga sering
menisbatkan kepada perkataan Ali bin Abi Thalib bahwa
"Wanita itu jelek segala-galanya, dan segala kejelekan
itu berpangkal dari wanita."
Perkataan ini tidak dapat diterima sama sekali; ia
bukan dari logika Islam, dan bukan dari nash.1
Bagaimana bisa terjadi diskriminasi seperti itu,
sedangkan Al-Qur'an selalu menyejajarkan muslim dengan
muslimah, wanita beriman dengan laki-laki beriman,
wanita yang taat dengan laki-laki yang taat, dan
seterusnya, sebagaimana disinyalir dalam Kitab Allah.
Mereka juga mengatakan bahwa suara wanita itu aurat,
karenanya tidak boleh wanita berkata-kata kepada
laki-laki selain suami atau mahramnya. Sebab, suara
dengan tabiatnya yang merdu dapat menimbulkan fitnah
dan membangkitkan syahwat.
Ketika kami tanyakan dalil yang dapat dijadikan acuan
dan sandaran, mereka tidak dapat menunjukkannya.
Apakah mereka tidak tahu bahwa Al-Qur'an memperbolehkan
laki-laki bertanya kepada isteri-isteri Nabi saw. dari
balik tabir? Bukankah isteri-isteri Nabi itu
mendapatkan tugas dan tanggung jawab yang lebih berat
daripada istri-istri yang lain, sehingga ada beberapa
perkara yang diharamkan kepada mereka yang tidak
diharamkan kepada selain mereka? Namun demikian, Allah
berfirman:
"Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka
(istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir
..."(al-Ahzab: 53)
Permintaan atau pertanyaan (dari para sahabat) itu
sudah tentu memerlukan jawaban dari Ummahatul Mukminin
(ibunya kaum mukmin: istri-istri Nabi). Mereka biasa
memberi fatwa kepada orang yang meminta fatwa kepada
mereka, dan meriwayatkan hadits-hadits bagi orang yang
ingin mengambil hadits mereka.
Pernah ada seorang wanita bertanya kepada Nabi saw.
dihadapan kaum laki-laki. Ia tidak merasa keberatan
melakukan hal itu, dan Nabi pun tidak melarangnya. Dan
pernah ada seorang wanita yang menyangkal pendapat Umar
ketika Umar sedang berpidato di atas mimbar. Atas
sanggahan itu, Umar tidak mengingkarinya, bahkan ia
mengakui kebenaran wanita tersebut dan mengakui
kesalahannya sendiri seraya berkata, "Semua orang
(bisa) lebih mengerti daripada Umar."
Kita juga mengetahui seorang wanita muda, putri seorang
syekh yang sudah tua (Nabi Syu'aib; ed.) yang berkata
kepada Musa, sebagai dikisahkan dalam Al-Qur'an:
"... Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia
memberi balasan terhadap (kebaikan)-mu memberi minum
(ternak) kami ..." (al-Qashash: 25)
Sebelum itu, wanita tersebut dan saudara perempuannya
juga berkata kepada Musa ketika Musa bertanya kepada
mereka:
"... Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? Kedua
wanita itu menjawab, 'Kami tidak dapat meminumkan
(ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu
memulangkan (ternaknya), sedangkan bapak kami adalah
orang tua yang telah lanjut usianya." (al-Qashash: 23)
Selanjutnya, Al-Qur'an juga menceritakan kepada kita
percakapan yang terjadi antara Nabi Sulaiman a.s.
dengan Ratu Saba, serta percakapan sang Ratu dengan
kaumnya yang laki-laki.
Begitu pula peraturan (syariat) bagi nabi-nabi sebelum
kita menjadi peraturan kita selama peraturan kita tidak
menghapuskannya, sebagaimana pendapat yang terpilih.
Yang dilarang bagi wanita ialah melunakkan pembicaraan
untuk menarik laki-laki, yang oleh Al-Qur'an
diistilahkan dengan al-khudhu bil-qaul
(tunduk/lunak/memikat dalam berbicara), sebagaimana
disebutkan dalam firman Allah:
"Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti
wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah
kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah
orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah
perkataan yang baik." (al-Ahzab: 32)
Allah melarang khudhu, yakni cara bicara yang bisa
membangkitkan nafsu orang-orang yang hatinya
"berpenyakit." Namun, dengan ini bukan berarti Allah
melarang semua pembicaraan wanita dengan setiap
laki-laki. Perhatikan ujung ayat dari surat di atas:
"Dan ucapkanlah perkataan yang baik"
..............................................................................................................................................
Yang jelas di sini - cara wanit bercakap dengan lelaki yang ajnabi perlulah diperbaiki. Sekiranya suaranya kuat sehingga boleh pula berlaku fitnah - eloklah ia perbaiki perlahan-lahan. Tidak diajar pula untuk berlunak-lunak, menjadikan suara sebagai pujuk rayu, bermanja-manja sesama lelaki yang ajnabi.
xpela klu dh sore 2 mmg kuat...
suare i pn kuat tp i need good voice projection..
i am future teacher so mmg perlulah suara yg kuat..
klu x hbsla student tdo dlm kls kn..
slaluny org yg bersuara kuat ni perwtakan dye mst agk kasar..
mcm sy la..
so x timbul soal aurat coz dr ape yg sy belajar...
sore 2 jd aurat bile kte wat sore yg gedik2 2...
so dun worry too much coz i think u r normal... =P
syuhada95 wrote:
saya harap ada sesiapa boleh tolong saya. sy mempunyai suara yang kuat.
lepas sy tau yg suara tu aurat, sy cuba utk mengawal suara sy tapitak berjaya*tdown*So, sy nak minta nasihatdan cara utk sy mengatasinya*blushing*
suara kuat x mengapa...
lagipun bukan aurat...
ade bab2 tertentu suara kamu tu amat berguna...
maka waktu2 perbualan biasa..belajar lah control suare...ok je tu...
tapi ingat..walaupun suara wanita bukan aurat...
tapi suara wanita y buat lemah-gemalai sehingga boleh membuat timbulnya fitnah...maka itu memang JELAS dilarang agama...
maka,dikehendaki kamu pandai2 lah tang mane nak guna suara kamu tu..
bukan kamu sorang saja,dan juga kepada wanita2 y lain gak..huhu:D
rse2 mcm knl...
erm,,
sy pown sore kuat gk syuhada..
mak slalu tgur..
skg ni pown tgh blaja control..
kalo tym balaja mmg no hal,, ia 1 kelebihan..
tp ble msk tym sembang abes laa...
tgh2 sembang tu xsedar volume sore nek..:?
xtaw gk nk wat cne..
kalo bab ckp ngan kaum lelaki mmg xckp la lembik2..